Besar Kecil Normal Supernova Terlihat di Luar Angkasa

Sebuah supernova telah terjadi di luar angkasa baru-baru ini. Sebuah bintang besar—ukurannya 150 kali ukuran matahari—meledak dan menimbulkan cahaya lima kali lebih terang daripada supernova mana pun.

Supernova terjadi ketika sebuah bintang tua kehabisan bakar lalu meledak dengan sendirinya. Bintang uzur itu bernama SN 2006gy, yang ditemukan pertama kali pada September tahun lalu oleh seorang mahasiswa di Texas. Letaknya 240 juta tahun dari bumi, berada pada galaksi yang jauh dari Bimasakti.

Ahli astronomi dari Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) mengatakan supernova itu berlangsung selama 70 hari. Mereka telah mengamatinya dengan sejumlah teleskop di bumi maupun ruang angkasa. “Dari semua bintang yang meledak yang pernah diamati, inilah rajanya,” kata Alex Filippenko dari NASA.

Nathan Smith, yang memimpin sebuah tim gabungan dari Universitas California Berkeley dan Universitas Texas Austin, mengatakan ledakan itu sungguh-sungguh besar, ratusan kali lebih energik daripada supernova biasa.

Namun berbeda dengan supernova yang umum, pengamatan melalui teleskop sinar-X dari Observatorium Chandra di orbit, memperlihatkan bahwa ledakan SN 2006gy tak menyebabkan lubang hitam (black hole).

Para ahli astronomi itu kemudian memperkirakan ledakan bintang semacam itu akan terjadi pada bintang Eta Carinae, yang berada di galaksi Bimasakti, 7.500 tahun cahaya dari bumi.

Dave Pooley dari Universitas California di Berkeley, mengatakan bila Eta Carinae meledak, cahayanya akan begitu terang sehingga akan tampak meski pada siang hari.

Mario Livio dari Institut Ilmu Teleskop Ruang Angkasa di Baltimore mengatakan Eta Carinae bisa meledak kapan saja. “Kami terus mengawasinya," katanya. 
READ MORE»

Benda angkasa luar jatuh di Duren Sawit


Benda angkasa luar kerap menyisakan serpihan setelah menghantam bumi
Benda angkasa luar kerap menyisakan serpihan setelah menghantam bumi
Benda asing yang merusakkan sejumlah rumah di kawasan Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur, diduga merupakan serpihan benda angkasa luar.
Kesimpulan sementara ini didapat petugas Pusat Laboratorium Mabes Polri setelah sejak semalam melakukan penelitian di lokasi.
"Semalam terlalu gelap jadi belum bisa diketahui, tapi tadi pagi sudah bisa disimpulkan sementara ini benda luar angkasa,"kata Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Hasanuddin.
Ledakan di Duren Sawit tersebut menyebabkan tiga rumah rusak pada Kamis (29/04) sekitar pukul 1600 wib.
Salah satu rumah rusak berat, atap hingga lantai dua runtuh sementara benda-benda di dalam rumah hangus terbakar.
tadi pagi sudah bisa disimpulkan sementara ini benda luar angkasa
Hasanuddin
"Menurut para ilmuwan dari Batan, memang itu salah satu ciri benda luar angkasa, membakar ketika jatuh ke bumi tambah Hasanuddin.
Indikasi lain yang menguatkan dugaan ini merupakan benda asing, menurut Hasanuddin, adalah tidak adanya ciri benda buatan manusia, seperti sisa bubuk mesiu atau bahan peledak lain yang dikenal.
Sisa-sisa debu benda angkasa luar yang ada di lokasi sebagian telah dibawa ke Pusat Labfor Mabes Polri utnuk diteliti lebih lanjut.
Sementara karena dari tes radiasi maupun pencemaran tidak ditemukan adanya bahaya paparan, polisi mempersilakan pemilik rumah menempati kembali kediamannya.
Kejadian jatuhnya potongan benda angkasa luar ke bumi beberapa kali diberitakan di Indonesia, termasuk yuang terjadi di Sulawesi baru-baru ini.
READ MORE»

Ancaman nyata dari luar angkasa

Ancaman nyata dari luar angkasa adalah serbuan bakteri yang telah mengalami mutasi sehingga menjadi pembunuh ganas.Tahun 
ini, penelitian ruang angkasa memasuki usianya yang ke 50. Banyak 
temuan baru dan bidang keilmuan angkasa luar maju pesat. Bahkan dapat 
disebutkan jauh lebih pesat ketimbang penelitian kebumian. Berbagai 
ancaman dari luar angkasa juga dapat diperhitungkan, dianalisa dan 
dicari penangkalnya. Baik itu ancaman tumbukan dengan meteorit besar 
atau berbagai ancaman lainnya. Sejauh ini dalam benak orang awam, yang 
terbayangkan sebagai ancaman dari angkasa luar adalah monster-monster 
mengerikan, baik berupa sosok raksasa atau makhluk luar angkasa 
berkulit hijau berukuran manusia kerdil yang ganas dan haus darah. Akan 
tetapi, ancaman nyata yang sebenarnya adalah serbuan bakteri pembunuh. 
Penelitian yang dilakukan badan antariksa AS-NASA di luar angkasa 
menunjukkan, bakteri yang berasal dari Bumi di ruang tanpa bobot 
mengalami mutasi menjadi bakteri amat mematikan. Sejumlah film 
fiksi ilmiah sudah menggambarkan bagaimana dahsyat dan mengerikannya 
serbuan makhluk luar angkasa berukuran kecil, yang memusnahkan 
kehidupan umat manusia di Bumi. Sekarang fiksi ilmiah semacam itu sudah 
menjadi kenyataan. Bakteri Salmonella yang dibawa dari Bumi dalam misi 
wahana penerbangan ulang-alik ke luar angkasa pada tahun lalu, terbukti 
mengalami mutasi menjadi bakteri amat mematikan. Untuk ujicoba, bakteri 
salmonella itu dibungkus dalam kemasan tiga lapis tahan pecah, untuk 
mencegah bakteri amat mematikan itu lolos ke udara. Salmonella adalah 
bakteri berbentuk batang, yang memicu gejala keracunan makanan ditandai 
dengan buang air terus menerus pada manusia. Dalam kondisi normal, 
keracunan salmonella dapat diobati menggunakan antibiotika dan 
pemberian tambahan cairan elektrolyt. Tapi pada anak-anak atau kelompok 
risiko, bakteri salmonella dapat memicu penyakit berat hingga kematian. 
Penyakit berat yang ditimbulkan bakteri salmonella antara lain infeksi 
saluran pencernaan, typhus dan paratyphus. Dalam penelitian 
di luar angkasa, bakteri salmonella yang dibawa dikembangbiakan dalam 
kultur makanan. Setibanya kembali ke Bumi, bakteri salmonella yang 
dikembangbiakan di lingkungan tanpa bobot itu diujicoba pada tikus di 
laboratorium. Hasilnya, bakteri yang dibawa ke luar angkasa membunuh 
tikus percobaan jauh lebih cepat, dibanding tikus ujicoba yang mendapat 
infeksi salmonella yang berkembang biak di Bumi. Inilah skenario horror 
dari bakteri pembunuh dari luar angkasa. Sekitar 150 sekuens gen dari 
salmonella yang dibawa ke ruang angkasa, terbukti jauh lebih aktiv 
dibanding gen salmonelle normal. Demikian diungkapkan pimpinan 
penelitian, Dr. Cheryl Nickerson dari Universitas Arizona; “Kita 
mengirim astronot lebih lama lagi ke luar angkasa dan semakin jauh dari 
Bumi. Dengan itu risiko penyakit infeksi lebih besar lagi.“Kekebalan Tubuh MelemahSeperti 
diketahui, dalam kondisi tanpa bobot sistem kekebalan tubuh manusia 
berfungsi lebih lemah ketimbang jika berada di Bumi. Artinya risiko 
untuk terinfeksi bibit penyakit juga menjadi lebih besar lagi. 
Bayangkan jika bakteri yang menyerang adalah dari jenis yang sudah 
mengalami mutasi, dengan tingkat fatalitas yang juga jauh lebih tinggi 
dari bakteri sejenis di Bumi. Di masa depan, ancaman kesehatan gawat 
semacam itu, akan semakin sering dihadapi para astronot dalam misi 
cukup lama di luar angkasa.Sejauh ini penelitian baru mencakup 
serangan bakteri, yang memang berasal dari Bumi dan terbawa ke luar 
angkasa. Belum diketahui, apakah di luar angkasa yang sulit diketahui 
batasnya itu, juga terdapat bakteri lainnya yang masih menunggu inang 
baru dari Bumi. Ancaman sejauh itu belum dibayangkan oleh Dr.Cheryl 
Nickerson. Akan tetapi, peneliti dari Universitas Arizona itu juga 
menarik sisi positiv dari temuan bakteri salmonella yang mengalami 
mutasi di luar angkasa. Nickkerson menjelaskan ; “Jika kita 
memanfaatkan pengetahuan dan sifat bakteri tsb, kita dapat memiliki 
kemungkinan pengembangan metode baru pengobatan dari penyakit yang 
ditimbulkannya, pembuatan obat-obatan baru atau bahkan vaksinnya.“ Penyebab 
mutasi bakteri itu, menurut Nickerson bukan kondisi tanpa bobot itu 
sendiri. Melainkan dampak kondisi tanpa bobot pada cairan di dalam sel. 
Akibat kondisi tanpa bobot di luar angkasa, mekanisme gesekan molekul 
dalam cairan sel berkurang.
READ MORE»

Nginep di Hotel Luar Angkasa Habiskan 42 Miliar Rupiah???





Sebuah perusahaan memiliki rencana  untuk membuka hotel pertama di luar  angkasa dan rencana akan dibuka  untuk tamu mulai tahun 2012,  walaupun rencana ini sempat menuai  banyak kritik dan pertanyaan banyak  investor atas project multi miliaran  dollar ini. Arsitek hotela tersebut  adalah perusahaan The Galactic Suite Space Resort yang bermarkas di Barcelona, yang mengatakan bahwa hotel di luar angkasa tersebut dikenakan biaya untuk tamu sebesar 3 juta euro ($4.4 juta) atau sekitar Rp. 42 miliar untuk biaya menginap 3 malam di hotel, dimana harga tersebut sudah termasuk 8 minggu kursus di pulau tropis.
Selama tinggal di hotel luar angkasa atau tepatnya di bulan, tamu dapat melihat matahari terbit 15 kali sehari dan berjalan mengelilingi dunia setiap 80 menit. Mereka akan mengenakan pakaian ‘velcro’ sehingga mereka dapat merangkak di sekitar ruangan pod mereka dengan melekatkan dirinya ke dinding, mirip di film Spiderman. Menurut CEO The Galactic Suite Space Resort, Xavier Claramunt, yang juga pernah menjabat sebagai teknisi aerospace mengatakan bahwa project tersebut akan disimpan di perusahaannya (galacticsuite.com), dan ia yakin bahwa perjalanan luar angkasa ini akan menjadi hal luar biasa di masa depan.
Galactic Suite Ltd akan menjalankan project ini dengan single pod di orbit 450 km (280 mil) di atas bumi, dan berjalan dengan kecepatan 30,000 km per jam, dengan kapasitas penumpang 4 orang dan 2 pilot astronot. Perjalanan akan memakan waktu satu setengah hari. “Ketika penumpang sampai di rocket, mereka akan tinggal selama 3 harus di rocket dan kapsul. Kini sudah lebih dari 200 orang yang tertarik dengan perjalanan di hotel luar angkasa ini dan setidaknya terdapat 43 orang telah memesan ‘kamar’ hotel tersebut.” ungkap Claramunt.
Namun, pertanyaan yang timbul, darimana uang yang begitu banyak untuk membangun project ini? Claramunt menjawab ada seorang miliuner anonym yang tertarik dan mau mendanai project tersebut sebesar $3 miliar.
READ MORE»
Copyright 2011 Madeincopas - Editor Theme MadeincopaS - Editor premium onthespot